10 Naskah Kuno Indonesia, Keindahan Karya Sastra Nusantara

Saat mendengar kata naskah kuno, maka pikiran kita akan teringat pada nama Mpu Tantular, atau Mpu Prapanca yang pernah kamu dengar di sekolah. Walaupun sudah pernah dengar, tapi mungkin kamu tidak tahu apa isi dari karya mereka. Berikut ini adalah naskah-naskah kuno yang menjadi keindahan dan kekayaan dari karya sastra di republik ini.

1. I La Galigo atau Sureq Galigo

* sumber: sulsel.idntimes.com

I La Galigo atau biasa disebut juga La Galigo atau Sureq Galigo adalah sebuah karya epik yang ditulis dalam bentuk puisi. Karya ini ditulis antara abad ke-13 dan ke-15. Puisi ini menggunakan bahasa Bugis Kuno, yang berisikan mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan.

Karya sastra ini ditulis dengan aksara Lontara Bugis dalam sajak bersuku lima. Pada masyarakat Bugis, epik ini sebagian besar berkembang melalui tradisi lisan dan dinyanyikan pada acara-acara tradisional Bugis yang penting. Hikayat ini menjadi terkenal setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater.

I La Galigo dipercaya merupakan sebuah karya sastra terpanjang di dunia, bahkan lebih panjang dari epik Mahabarata. Hikayat La Galigo diawali dengan penciptaan dunia dan juga asal muasal manusia mengisi Bumi serta perjalanan dari si tokoh utama Sawerigading dan anaknya La Galigo.

2. Kakawin Nagarakretagama

* sumber: historia.id

Kakawin Nagarakretagama memiliki sebutan lain, yaitu Kakawin Desawarnana yang merupakan karya dari Empu Prapanca. Empu Prapanca merupakan nama pena, sedangkan nama aslinya adalah Dhang Acarya Nadendra. Empu Prapanca hidup di abad ke-14 di Majapahit pada masa Hayam Wuruk.

Kakawin merupakan sebuah wacana puisi yang biasa ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Kakawin Nagarakretagama merupakan karya yang diselamatkan oleh JL. A. Brades, seorang Ahli Sastra Jawa Belanda. Karya tersebut disimpan di Lombok di perpustakaan kerajaan yang dibakar oleh tentara KNIL.

Nagarakretagama menguraikan tentang situasi Keraton Majapahit selama masa pemerintahan Hayam Wuruk. Naskah ini menguraikan perjalanan dari Hayam Wuruk. Selain dari situasi Kerajaan Majapahit dan perjalanan Hayam Wuruk, naskah ini juga menguraikan silsilah keluarga kerajaan.

3. Babad Dipanegara

* sumber: bobo.grid.id

Babad Dipanegara adalah sebuah naskah kuno yang menceritakan pengasingan Pangeran Diponegoro oleh Belanda ke Sulawesi Utara pada tahun 1831. Kisah Babad Dipanegara ini dibagi menjadi beberapa bagian dan tak hanya mengisahkan tentang Pangeran Diponegoro saja.

Babad Dipanegara, selain mengisahkan tentang kehidupan Diponegoro sejak dari lahir hingga beliau diasingkan, juga mengisahkan sejarah Majapahit. Naskah ini menceritakan tentang jatuhnya Majapahit dan juga menguraikan tentang Kesultanan Yogyakarta.

Kisah Babad Dipanegara ini menceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Peneliti memperkirakan kisah ini ditulis oleh ipar dari Pangeran Diponegoro, Dipowiyono yang dibuang bersamanya. Diponegoro memberikan garis besar secara lisan yang lalu ditulis dalam bentuk tembang.

4. Cerita Panji

* sumber: historia.id

Cerita Panji merupakan kumpulan berbagai cerita. Kamu mungkin pernah mendengar dongeng Ande-ande Lumut, atau Keong Mas, Panji Laras, dan cerita yang lainnya. Cerita itu adalah Cerita Panji dalam bentuk dongeng. Cerita-ceritanya berdiri sendiri tidak bersatu dalam satu cerita induk.

Cerita Panji selalu berkisah pada dua tokoh utama, yaitu Raden Panji Inu Kertapati, pangeran dari Kerajaan Jenggala dan Dewi Sekartaji putri dari Kerajaan Kediri. Cerita dari Panji bukan karya sastra yang bernafaskan India Sentris, melainkan kental dengan kehidupan lokal dari masyarakat Jawa.

Cerita Panji telah memiliki banyak versi dan telah menyebar ke seluruh Nusantara dan juga Asia Tenggara. Cerita Panji merupakan karya fiksi yang sarat dengan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal dari masyarakat Jawa pada zamannya. Ceritanya mudah diterima masyarakat hingga dapat lestari.

5. Perjalanan Bujangga Manik

* sumber: iiif.bodleian.ox.ac.uk

Naskah kuno yang mengisahkan dari perjalanan Bujangga Manik merupakan kisah yang ditulis sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Naskah ini ditulis oleh seorang pangeran dari kerajaan Sunda Pakuan Padjadjaran yang bernama Jaya Pakuan. Naskahnya ditemukan di Inggris dan menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian.

Naskah Bujangga Manik ini menggunakan bahasa Sunda Kuno, dan ditulis pada daun lontar. Naskahnya mengisahkan perjalanan Pangeran Jaya Pakuan yang lebih memilih hidup sebagai seorang resi. Beliau melakukan dua kali perjalanan menuju daerah timur pulau Jawa.

Pada perjalanannya yang pertama Bujangga Manik menggunakan jalur utara, dengan melewati gunung-gunung. Sedangkan yang kedua perjalanannya menggunakan jalur selatan. Perjalanannya menjadi rekaman topografi dari alam pegunungan di Pulau Jawa yang masih dikenal hingga kini.

6. Naskah Kuno Sutasoma

* sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Sutasoma merupakan sebuah naskah kuno yang dibuat sekitar abad ke-14 yang ditulis oleh Mpu Tantular. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa Kuno dan menjadi naskah yang banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia karena isinya menjadi semboyan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bhineka Tungggal Ika merupakan semboyan yang dikutip dari karya Mpu Tantular dalam naskah Sutasoma pada pupuh 139 bait ke-5. Naskah Sutasoma sendiri menceritakan tentang perjalanan untuk menemukan makna kehidupan dari seorang pangeran yang bernama Sutasoma.

Kakawin Sutasoma menguraikan kisah pangeran Sutasoma sebagai tokoh utamanya. Naskah ini mengajarkan tentang toleransi dalam hubungan beragama antara Budhisme-Mahayana dan Hindu-Siwaisme. Kedua ajarannya dapat hidup berdampingan dan menyelesaikan perselisihan dengan damai.

7. Babad Tanah Jawi

* sumber: historia.id

Babad Tanah Jawi merupakan kumpulan naskah kuno yang menceritakan tentang raja-raja yang bertahta di Pulau Jawa. Babad Tanah Jawi merupakan cerita yang memiliki banyak versi. Babad Tanah Jawi merupakan naskah yang menjadi perhatian dari banyak sekali para ahli sejarah.

Walaupun Babad Tanah Jawi menjadi perhatian banyak para ahli, tetapi mereka tidak berani mengatakannya sebagai fakta sejarah yang akurat. Hal itu karena selain dari berisikan tentang sejarah raja-raja, Babad Tanah Jawi juga merupakan naskah yang sarat dengan cerita mitos di dalamnya.

Siapa penulis dari Babad Tanah, cukup sulit untuk menentukan secara pasti. Hal itu karena naskah itu tidak menyebutkan siapa penulisnya. Walaupun ada beberapa perkiraan yang mengatakan bahwa naskah itu ditulis oleh Yasadipura I yang berada di masa pemerintahan Pakubuwana III dan IV.

8. Sanghyang Siksa Kandang Karesian

* sumber: historia.id

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian merupakan naskah yang berisikan pedoman hidup yang dibuat oleh Prabu Jayadewata, untuk menjaga agar ajaran Hindu tetap hidup di Pajajaran. Selain ajaran Hindu, naskah ini juga membuat ajaran dari para leluhur yang dipercaya telah ada sebelumnya.

Isi dari naskah juga menguraikan aturan-aturan sehari-hari yang digunakan masyarakat agar terjadi ketentraman di masyarakat. Beberapa contoh dari pedoman itu menguraikan tentang cara mengukur tanah, pertanda alam, hampir seluruh aspek dalam kehidupan manusia, bahkan cara buang air besar.

Pedoman dari naskah ini dilaksanakan dengan baik selama pemerintahan Prabu Jayadewata, sehingga tidak terjadi perang selama masa pemerintahannya. Aturan ini akhirnya berpengaruh besar dan kuat pada masyarakat Sunda. Pedoman itu tetap hidup dalam diri masyarakat Sunda hingga saat ini.

9. Pustaha Agung

* sumber: artsandculture.google.com

Pustaha sendiri merupakan sebuah naskah tradisional Batak yang biasa digunakan oleh para pendeta adat Batak sebagai catatan pribadi yang berisikan tentang ilmu perdukunan. Pustaha Agung sendiri merupakan pustaha tertua di dunia yang memiliki panjang 50 cm dan tingginya 42 cm.

Pustaha Agung sendiri kini telah menjadi koleksi dari Tropen Museum di Belanda. Pustaha Agung berisikan tentang identitas dari pendeta dan desa tempat mereka tinggal. Pustaha Agung ditulis dan dimiliki oleh seorang datu yang bernama Guru Tumurun Hata ni Adji.

Ilmu sihir yang terdapat di dalam Pustaha Agung, dipercaya telah menyebar dari barat Danau Toba hingga ke desa Lobu Siregar di Siborongborong. Pustaha ini memiliki bentuk yang cukup unik. Pustaha ini berdiri dengan empat kakinya, sedangkan pada sampulnya terdapat ukiran sejenis ular.

10. Serat Menak

* sumber: commons.wikimedia.org

Manuskrip Menak Amir Hamzah merupakan naskah kuno yang bercerita tentang Hikayat dari Amir Hamzah. Dalam sastra Jawa, hikayat dari Amir Hamzah ini cukup populer. Hal itu karena tokoh Amir Hamzah terkenal karena sifat kepahlawanannya sehingga memperoleh gelar Jawa Kuno, Menak.

Saat ini manuskrip versi yang ke-3 merupakan versi yang ditulis dengan Arab Pegon menjadi manuskrip yang paling tebal yang terdapat di British Library. Naskah ini ditulis oleh Ratu Ageung yang merupakan istri dari Sultan Pertama Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I.

Cerita Menak ini yang menjadi inspirasi terciptanya Wayang Menak yang dahulu dipentaskan untuk rakyat kecil hingga bangsawan. Naskah ini diperkirakan disalin di sekitar tahun 1730 – 1803, dengan tebal sekitar 3.000 halaman, dan sedang dalam proses digitalisasi sehingga dapat dibaca semua orang.

Itulah beberapa naskah Kuno yang terdapat di Indonesia. Sebenarnya banyak naskah kuno yang terdapat di Indonesia. Naskah-naskah yang dibahas di atas hanyalah sebagian dari ratusan naskah yang masih banyak untuk digali. Naskah-naskah ini menjadi gudang ilmu yang menunggu untuk eksplorasi.

Tag: